Senin, 24 Juni 2013

Mbak Ira Suster Cantukku

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di
rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu.
Dan dalam urusan asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena
semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua
pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini. 
Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira
adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala
pengakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama
itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku
terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah
sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan
teman-temanku datang membesukku saja. 
Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat
duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya,
jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya 
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap.
Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun,
saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya
memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku
untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.
Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil
suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang kuanggap paling cantik dan paling baik
dimataku itu masuk ke kamarku. 
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. 
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku
membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan
menggiurkan. 
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini
panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya
sudah boleh mandi hari ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar. 
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih
muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang
khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti
tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah boleh dimandiin apa belum", jelasnya
ramah. 
Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku seolah berdesir
keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau
memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu. 
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-
ngga ya. hi hi hi". 
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus
kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan
menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut. 
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok", elakku
sambil melihat senyumannya yang semakin manis itu. 
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak
bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-
bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi
seolah memancing gairahku. 
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusa"
jawabku serius, saya tidak mau terlihat "nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula
saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita. 
Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia
mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. 
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket", lanjutnya sambil
membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak. 
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. 
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya
tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah
pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga
sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur. 
Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan
halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah
lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. 
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang
dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di
permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini.
fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas
pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung
kontolku karena terangsang.
Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali melihat kontolku yang
ereksi. 
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan
tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat
kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan
perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin
agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi
saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku. 
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"
Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku
langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani
berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia
sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan
jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku. 
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu. 
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini",
lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya. 
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin
terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan
orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.
"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku. 
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan
berbicara. 
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi. 
"Belum mbak" jawabku lagi. 
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih", lanjutnya centil. 
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya
"main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu. 
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-
main sama Mbak ya? 
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong. 
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya. 
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku. 
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil
memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan. 
Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya
cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani
membalas ciumannya. 
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat
geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya 
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong
lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu.
Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya
mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bias gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan
berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar. 
Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan
kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu.
Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai
saya telangjang bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga
saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat
dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun
mbak Ira benar-benar pintar membimbingku. 
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam berciuman.
Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan
kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat
meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku,
kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali
menggigitnya. 
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih", desahnya seolah geram
sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya. 
Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya.
Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas
kulumanku di putingnya, kini kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira
memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap selangkanganku,
dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya. 
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan agar tidak
menyemburkan maniku cepat-cepat. 
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang 
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-
gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata
dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas
posisi kakiku. 
Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya
dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah, sementara saya sibuk menggelitik
memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan
sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki. 
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget", desahnya keras. 
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir didengar
orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga. 
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget", pintaku karena
memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti
adegan film BF yang biasa kutonton. 
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin
oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat
gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum 
pernah kurasakan sebelumnya. 
Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar,
kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya,
disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa 
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar. 
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya
untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu. 
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu
cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali disekeliling kepala kontolku didalam
mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali. 
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang
kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah
tahu bahwa saya akan segera "keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang,
disedot dan terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat enak
sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat
kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira. 
Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang
kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang
kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih,
sampai kontolku melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang 
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian seragam dengan
kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini
memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar 
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya
cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh
belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku
secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira. 
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri
kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas "panas" yang
dilakukan mbak Ira. 
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga
desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda. 
Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira
tampak semakin terangsang juga. 
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam memeknya, dan
digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting
susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu. 
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira sambil mendekati
diriku. 
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja
dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat
kontolku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali
basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya. 
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe", agak kecewa saya
mendengar tolakannya ini. 
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput
darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati
permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit
terakhir ini.
Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih
asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku
dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah 
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya,
sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat
kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira
sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia juga sambil memainkan
memeknya sendiri. 
Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya. 
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar", teriaknya
sambil mempercepat gosokan tangannya. 
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena teringat adegan film
BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme
dengan bernafsu. 
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.
Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontolku. Aku
benar-benar menikmati pengalaman indah ini. 
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memeknya.
Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet diantara bulu-
bulu jembutnya. Kuhisap dan kusedot sambil memainkan lidahku di seputar
kelentitnya. 
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan dengan cairan hangat
yang mengalir memenuhi hidung dan mulutku, hampir muntah saya dibuatnya
saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu. 
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan
gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun orgasme untuk kedua kalinya.
Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti 
membawaku terbang ke langit ke tujuh. 
Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk diatas
pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku yang sudah lemas. Kami
sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling
merahasiakan kejadian ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami 
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja. 
Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya
sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama
SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya 
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya
keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan
sekedar esek-esek. 
Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit
itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubunganku dengannya tidak lain
hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering 
merasa "horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama
suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira.
Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi
hidupku, paling tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar 
fantastis menurutku... 
>>>>>>>>>>TAMAT<<<<<<<<<<

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar